Home Sumatera Selatan PRABUMULIH Ricard Cahyadi : Copot PLH Sopir Yang Tak Layani Warga

Ricard Cahyadi : Copot PLH Sopir Yang Tak Layani Warga

28
0

PRABUMULIH -(ANTERO SUMSEL)– Pasca penolakan supir mobil jenazah Pemkot Prabumulih, yang tak mau melayani warga yang sedang mendapat musibah karena alasan keluarganya bukan pendukung calon incumbent, membuat Penjabat (Pj) Wali Kota (Wako) Prabumulih, H Richard Chahyadi AP MSi mengambil sikap tegas dengan mencopot sopir yang berstatus PHL tersebut dari tugasnya.

Sikap tegas itu diambil Richard agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. “Tirta sopir PHL langsung diberhentikan. Sikapnya itu merusak citra Pemkot Prabumulih. Hari ini dia langsung berhenti. Gaji bulan Juni boleh diambil, tapi bulan depan tidak terima lagi,” tegas Richard saat ditemui di rumah duka, Rabu (13/6) sore.

Seharusnya sebagai petugas PHL dan pelayan masyarakat, tidak dibolehkan bersikap tenang pilih untuk melayani masyarakat ,apalagi berkaitan dengan amal kematian”terang Ricard.

“Tadi saya dengar langsung dari Tirta melalui telepon. Dia mungkin mengira jika dirinya masih sedang berbicara dengan Dedi (sopir mobil jenazah lainnya). Makanya dia bilang kalau dia adalah orang Ridho (paslon tunggal Pilwako Prabumulih) kalau bukan berkaitan kegiatan Ridho, maka dia tidak mau. Itu jawabannya,” ungkapnya dengan nada geram.

Menyikapi hal ini Richard menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat termasuk pelayan masyarakat agar di masa pilkada saat ini, tidak menjadikan perbedaan pendapat alasan untuk tidak melakukan tugasnya masing-masing.

“Saya menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat, yang namanya politik adalah perbedaan pendapat yang sifatnya sesaat, bukan perbedaan yang terus berlanjut. Setelah masa politik usai, semuanya sama dan tidak ada perbedaan lagi. Termasuk dalam hal melayani masyarakat. Tidak boleh ada perbedaan, disaat masyarakat membutuhkan pelayanan semuanya dilakukan dengan standar yang sudah ditentukan,” jelasnya.

Kalau ada seperti itu, lanjut Richard, berarti ada pengkotak-kotakan di masyarakat. Namanya politik, ada visi, misi dan program yang akan disampaikan kepada masyarakat.

“Apalagi, di Prabumulih itu calon tunggal, yang berarti lawannya adalah kotak kosong. Dengan begitu, masyarakat berhak memilih antara kotak kosong atau paslon. Tapi bukan berarti pelayanan masyarakat itu tidak dijalankan karena perbedaan pilihan,” pungkasnya.(Noe)

Editor : Banu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here